3 Mitos Wisata Guci Tegal yang Saya Dengar Waktu Kecil

Air Terjun

Inspira Talk – Beberapa waktu lalu, objek wisata pemandian air panas Guci diterjang banjir bandang. Berbicara tentang ikon wisata Kabupaten Tegal tersebut, ingatan saya jadi melayang ke masa kecil. Ingatan tersebut berkaitan dengan mitos yang menyelimuti objek wisata yang terletak di kaki Gunung Slamet. 

Berikut adalah 3 mitos tentang pemandian air panas Guci Tegal yang saya dengar waktu kecil:

1# Patung Hidup di Malam Jumat Kliwon

Baca Juga: Mengenal Dua Tokoh Revolusioner dari Tegal

Ada banyak patung di objek wisata pemandian air panas Guci. Dari sekian banyak itu yang menjadi ikon ialah patung naga dan kurcaci. Konon patung naga tersebut adalah tempat dari penjaga gaib pancuran 13 yaitu naga bernama Rantensari. Sementara patung kurcaci adalah wadah dari makhluk kerdil yang ditugaskan untuk menjaga naga supaya tidak membuat kegaduhan.

Perihal naga penghuni objek wisata Guci, ada dua versi. Versi pertama ialah naga tersebut bernama Rantensari. Lalu versi kedua bernama Naga Cerek. Nah, naga penjaga Guci ini mitosnya adalah dayang dari Nyi Roro Kidul.

Nah, pada malam Jumat Kliwon, konon katanya patung-patung di objek wisata Guci Tegal bisa hidup. Jadi, mitosnya di malam Jumat Kliwon, patung-patung itu bertingkah seperti makhluk hidup.

Baca Juga: 4 Hal Tentang Tegal yang Tidak Diketahui Banyak Orang

2# Tempat Pesugihan

Guci tak hanya menawarkan air panas yang khasiatnya bisa menyembuhkan penyakit kulit. Konon katanya di tempat ini menawarkan kaya secara instan, dengan kata lain pesugihan atau bahasa Jawanya nyupang. Pesugihan tersebut bernama pesugihan Naga Cerek.

Mitosnya, di dalam air terjun Guci terdapat gua, di mana gua itu adalah tempat tinggal Naga Cerek dan tempat melakukan ritual pesugihan. Para pelaku pesugihan percaya bahwa Naga Cerek mampu mengabulkan berbagai permintaan. Namun, sama seperti pesugihan pada umumnya, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Para pelaku pesugihan harus menukar keinginan tersebut dengan tumbal nyawa dari anggota keluarga. Dan Konon katanya, ritual pesugihan Naga Cerek dilakukan di hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon.

Baca Juga: 3 Peristiwa Sejarah di Tegal yang Jarang Diketahui Warganya

3# Asal-Usul Guci

Guci pada dasarnya adalah nama sebuah benda yang berfungsi sebagai wadah penyimpan air. Sejarah Guci tidak terlepas dari kisah Kerajaan Demak Bintoro. Ketika konflik internal melanda kerajaan tersebut, seorang bangsawan bernama Raden Aryo Wiryo bersama istrinya, Nyai Tumbu, memilih meninggalkan lingkungan keraton.

Raden Aryo Wiryo, yang juga dikenal dengan sebutan Kyai Ageng Klitik, merupakan cucu dari Raden Patah, raja pertama Demak Bintoro. Ia kemudian mengembara ke arah utara dan sempat menetap di Cirebon. Di kota ini, Raden Aryo Wiryo berguru kepada Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Setelah menimba ilmu, ia melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah desa di kaki Gunung Slamet dan memutuskan menetap di wilayah tersebut.

Saat itu, masyarakat setempat belum mengenal ajaran Islam. Oleh karena itu, Raden Aryo Wiryo menamai wilayah tersebut Desa Keputihan. Suatu ketika, Desa Keputihan dilanda wabah penyakit kulit yang menyerang banyak warga. Melihat kondisi tersebut, Raden Aryo Wiryo meminta pertolongan kepada Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati kemudian mengutus salah satu muridnya, Kiai Elang Sutajaya, untuk membawa air dalam sebuah guci ke Desa Keputihan. Namun, air di dalam guci tersebut tidak mencukupi untuk mengobati seluruh warga yang terdampak. Sebagai jalan keluar, Raden Aryo Wiryo bersama Kiai Elang Sutajaya mengajak masyarakat menggelar sedekah bumi dan dilanjutkan dengan tahlilan pada malam harinya.

Usai tahlilan, Sunan Gunung Jati dipercaya hadir secara gaib dan menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari tempat tersebut kemudian muncul mata air panas yang tidak mengandung belerang. Peristiwa ini diyakini terjadi pada malam Jumat Kliwon di bulan Muharram. Sejak saat itu, Desa Keputihan dikenal dengan nama Desa Guci.

Adapun guci yang dibawa oleh Kiai Elang Sutajaya atas pemberian Sunan Gunung Jati, pada masa pemerintahan Adipati Cakraningrat selaku Adipati Brebes, dipindahkan dari Desa Guci ke Pendopo Kabupaten Brebes.

Itulah 3 mitos tentang pemandian air panas Guci Tegal yang saya dengar waktu kecil.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *