Tangerang Selatan, Inspira Talk – Teater Bukit Senja berhasil mementaskan pertunjukan drama berjudul “L’EXILE DE 65 À PARIS” pada Jumat (19/12/2025) di Ruang Serbaguna Anggrek 2, Lantai 8, Universitas Pamulang. Pementasan teater ini merupakan bagian dari Festival Drama Warisan Tahunan (Drawata) Vol. 7.0.
Melalui laman resmi Instagram @drawata_, dijelaskan bahwa Festival Drawata 2025 menampilkan delapan cerita dari delapan kelompok teater mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang semester V.
Baca Juga: Tiba di Turki, Presiden Prabowo Subianto Disambut Presiden Erdogan
“Festival Drawata kembali hadir dengan tema Simfoni 8 Suara, membawa harmoni dari delapan cerita besar dalam sebuah pementasan yang megah,” tulis unggahan @drawata_.
Pertunjukan “L’EXILE DE 65 À PARIS” yang ditampilkan oleh kelas 05SIDK001 berlatar peristiwa tahun 1995 dan 1965 dengan latar tempat Prancis dan Jawa Tengah.
Baca Juga: Ijazah SMA dan Sarjana Milik Presiden ke-7 RI Jokowi Disita Polisi
Cerita ini mengangkat masa kelam ketika negara mengalami peristiwa berdarah pada tahun 1965, yang menelan banyak korban dengan jumlah yang tidak diketahui secara pasti. Peristiwa tersebut diikuti oleh pergantian kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru.
Cerita berfokus pada tokoh Claire Ayuningtyas, anak dari seorang eksil peristiwa 1965 yang menetap di Paris. Ia memiliki seorang ibu berkebangsaan Indonesia yang mengalami trauma hingga usia senja. Di Paris, Claire menjalin hubungan dengan seorang penulis bernama Mathis Lefevre.
Baca Juga: Prabowo: Indonesia Siap Akui Israel Jika Palestina Merdeka Dari Penjajahan
Demi kesembuhan ibunya, Claire memutuskan untuk kembali ke Indonesia bersama sang ibu. Namun, keputusannya ditentang oleh Mathis karena situasi Indonesia yang masih berada di bawah rezim otoriter dan bersifat represif.
Pertunjukan “L’EXILE DE 65 À PARIS” berada di bawah bimbingan Welcy Fine dan diproduseri oleh Ramopoli Kharis Yehezkiel. Sutradara sekaligus penulis naskah adalah Malik Ibnu Zaman, dengan asisten sutradara Siti Almaidah. Manajer panggung dipegang oleh Wilda Yanti, bendahara Sri Lestari, dan divisi dana usaha oleh Meisya Nurjanah. Tim artistik terdiri atas Vania Indriani Puspita dan Junaeni. Penata kostum adalah Tantri Janatul Hikma dan Suci Fatwa Dewi. Penata rias diisi oleh Isoli Loh Jingga, Amanda Fadila, dan Dorote Beka. Musik dan pencahayaan ditangani oleh Musyfiq Abdillah, sedangkan dokumentasi oleh Akhrul Mubarok.
Tokoh Claire Ayuningtyas diperankan oleh Vebriyani Ratnawati, Mathis Lafevre oleh Ramopoli Kharis, dan Julian Delacroix oleh Akhrul Mubarok. Tokoh Ratri Lestari Tua diperankan oleh Yuniar Savitri, sedangkan Ratri Lestari Muda diperankan oleh Nia Jenika. Reno berperan sebagai tentara dan penari 1, Amir Ramdan sebagai Philippe Dubois dan Bung Besar, serta Patricyia Lani sebagai penari 2 dan perempuan. Sri Lestari berperan sebagai perempuan 1, Dela Fitria sebagai perempuan 2, dan Meisya Nurjanah sebagai perempuan 3.***