Gus Dur Dalam Pembangunan Budi Pekerti Manusia dan Teladan Pluralisme Toleransi Beragama

Abdurahman Wahid

Inspira Talk – Ya Gus Dur telah meneladani kita semua kata itu menjadi ungkapan sosok memorial yang menjadi pionir atau teladan lewat 9 nilai yang kini diwariskan, dalam toleransi pluralisme antar umat beragama di tengah isu hangat konflik agama, ras, dan  budaya. Dalam beberapa tahun terakhir, isu ras dan agama terus menjadi perdebatan hangat  di berbagai bidang.  Bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Gus Dur selalu menyikapi dengan moderat dan toleran serta menyebarkan kedamaian, di Indonesia beberapa kali terjadi insiden penodaan agama dan pelecehan ras, beberapa orang “dipenjara” Hal ini seolah menggambarkan kondisi  masyarakat yang masih sumbang. Saat pertama kali Gus Dur lahir, gagasan Gus Dur masih banyak menimbulkan kontroversi di benak masyarakat.

Namun seiring berjalannya waktu, pandangan Gus Dur  menjelma menjadi sebuah visi baru yang pada akhirnya menyadarkan seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya menjaga toleransi beragama dan budaya. Manusia dan agama ibarat dua sisi mata uang, jika satu sisi hilang, maka keduanya hilang kebudayaan dan masyarakat mempunyai hubungan yang sangat erat.

Manusia dilahirkan dalam suatu kebudayaan, sehingga kehadirannya berperan dalam mengembangkan pola perilaku. Hal inilah yang membuat manusia, agama, dan budaya  sulit dipisahkan.

Gus Dur berpendapat bahwa sudah menjadi kodrat manusia dan manusia lainnya saling memahami melalui akal dan menjaga persaudaraan melalui akal. Akal manusia tanpa kebijaksanaan tidak dapat melahirkan jiwa yang mulia.

Agama berperan penting dalam menentukan gaya, polarisasi peran, dan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Meskipun perdebatan mengenai apakah agama membentuk masyarakat atau sebaliknya masih belum terselesaikan.

Namun, hanya sedikit orang yang mampu mencapai kerukunan beragama dan budaya di tengah kesibukan hidup yang semakin meningkat. Kemunduran kesadaran moral  ini semakin hari semakin meningkat. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat sibuk menata ulang dunia seputar isu sistem informasi terkini, kecepatan pengenalan teknologi baru dan penerapannya, kualitas pendidikan yang memerlukan harus ada pertukaran nilai antara layanan dan perekonomian sehingga mereka bisa tampil lebih baik dan dapat berumur panjang di tengah persaingan yang ketat.

Kekhawatiran ini berujung pada arogansi manusia dalam bidang yang sensitif secara etika. Tampaknya orang-orang mengedepankan akal budi tanpa bersandar pada ruh yang luhur. Gus Dur menjelaskan, sebagai manusia yang lahir di lingkungan multikultural, ia harus mampu merasakan budaya dengan agama dan mengamalkan ajaran agama melalui budaya.

Dengan demikian, tujuan membangun keberagaman dalam deklarasi tertulis Indonesia dapat tercapai lebih dari sekedar janji tertulis yang tertuang dalam dokumen 1 Juni 1945. Dengan kata lain, masyarakat menganggap Pancasila adalah pedoman hidup dan dasar negara yang dianut oleh bangsa dan seluruh komunitas.

Cara pandang mulia Gus Dur mendorong tercapainya manusia yang mampu mewujudkan nilai-nilai Pancasila tanpa syarat. 

Padahal, masyarakat tersebut sejak dini sudah dididik tentang budaya lingkungan dan di lembaga pendidikan.

Di dunia pendidikan sejak dini, anak-anak dididik untuk saling toleransi dalam berperilaku dan berucap dengan menerapkan nilai-nilai pancasila.

Seperti saling menjaga dan menghormati perbedaan agama, berucap baik agar tidak menyinggung ras yang berbeda, menunjukkan sikap saling menghargai di segala lini perbedaan kehidupan. Namun, ternyata hal ini tidak cukup. Selain pendidikan kultural, sepertinya ranah pendidikan menjadi wadah paling tepat untuk membangun pola pikir dan perilaku masyarakat.

Dunia pendidikan efektif untuk menyuntikan ideologi-ideologi baru kepada generasi penerus. Sehingga tindakan penodaan agama dan pelecehan terhadap perbedaan suku dan ras tidak lagi terjadi. Ajaran Gus Dur tentang nalar mengajak masyarakat untuk selalu sadar bahwa masyarakat dalam lingkungan multikultural memerlukan ajaran agama, sehingga mendorong nalar menjadi lebih bermoral. 

Akal manusia tanpa agama dapat mendorong kejahatan seperti ejekan, intimidasi, penghinaan dan provokasi. Apalagi era saat ini merupakan era dimana digitalisasi  informasi berlangsung semakin pesat. Suntikan pola pikir dan perilaku bisa langsung disebarluaskan dan ditiru oleh siapa saja, tanpa memandang usia atau suku.Akal yang didasarkan pada nilai agama menurut Gus Dur akan meuwujdkan cinta kasih. Cinta kasih manusia sesungguhnya sangat tepat untuk melindungi kehidupan manusia di segala masa kehidupan.

Gus Dur menjadi trendsetter pluralisme di tengah-tengah gemuruhnya isu perselisihan agama dan ras budaya. 

Beberapa tahun belakangan isu ras dan agama masih hangat diperbincangkan di beberapa sektor. Baik sektor sosial, budaya, ekonomi, dan politik. 

Setelah beberapa peristiwa penistaan agama dan pelecehan perbedaan ras mengakibatkan beberapa orang ‘dibuikan’. Hal ini seolah menggambarkan kondisi di tengah-tengah masyarakat yang masih mengalami disharmonisasi.

Pada awal kehadiran pemikiran Gus Dur masih menimbulkan banyak kontroversi di tengah pola pikir masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu pandangan Gus Dur telah menjelma menjadi pandangan baru yang pada akhirnya menyadarkan seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya menjaga toleransi beragama dan budaya.

Manusia dan agama bagai dua sisi mata uang yang apabila satu tiada maka sama dengan ketiadaan keduanya. Budaya dan manusia memiliki hubungan sangat erat. Manusia lahir di tengah budaya sehingga kehadirannya ikut serta dalam membentuk pola prilaku. Hal inilah yang menjadikan manusia, agama, dan budaya merupakan satu lingkungan yang sulit terpisah.

Gus Dur memandang bahwa fitrah manusia dengan manusia lain ialah saling memahami dengan akal dan menjaga persaudaraan dengan budi. Akal manusia tanpa budi maka tidak akan mampu melahirkan keluhuran jiwa. Agama berperan penting dalam menentukan corak, polarisasi peran, dan pelapisan sosial dalam masyarakat. Meski perdebatan agama membentuk masyarakat atau sebaliknya masih belum menemukan titik akhir.

Meski demikian, tidak banyak orang mampu mewujudkan harmonisasi dalam beragama dan berbudaya di tengah hiruk pikuk kehiduapan yang semakin berkembang. Degradasi moral akal budi ini semakin hari kian terasa. 

Bisa saja hal ini terjadi karena manusia disibukkan dengan menata ulang dunianya dalam isu keterbaruan sistem informasi, ketercepatan melahirkan teknologi baru dan penerapannya, kualitas pendidikan yang dipaksa bertukar nilai menjadi jasa dan ekonomi sehingga dapat mampu hidup dalam kurun waktu lama di tengah persaingan yang ketat. 

Kesibukan ini mengakibatkan keangkuhan manusia pada ranah kepekaan etis. Manusia lebih nampak menonjolkan akal tanpa menyandarkan pada budi luhur. Gus Dur menjelaskan bahwa sebagai manusia yang lahir ditengah lingkungan multibudaya harus mampu menghidupkan budaya dengan agama dan mempraktikkan ajaran agama melalui budaya. 

Dengan demikian, tujuan membangun kebinekaan dalam naskah proklamasi Indonesia dapat terwujud dan bukan sekadar sebagai janji tulis yang tercantum pada naskah 1 Juni 1945. Ialah manusia menjadikan pancasila sebagai pedoman hidup dan dasar negara yang dihidupkan oleh seluruh masyarakat.

Pandangan Budi luhur Gus Dur mendorong terwujudnya manusia yang mampu melaksanakan nilai pancasila tanpa syarat. Sebenarnya rakyat ini telah dididik sejak dini baik dalam kultur budaya lingkungan maupun lembaga pendidikan. 

Di dunia pendidikan sejak dini, anak-anak dididik untuk saling toleransi dalam berperilaku dan berucap dengan menerapkan nilai-nilai pancasila. Seperti saling menjaga dan menghormati perbedaan agama, berucap baik agar tidak menyinggung ras yang berbeda, menunjukkan sikap saling menghargai di segala lini perbedaan kehidupan. Namun, ternyata hal ini tidak cukup.

Selain pendidikan kultural, sepertinya ranah pendidikan menjadi wadah paling tepat untuk membangun pola pikir dan perilaku masyarakat. Dunia pendidikan efektif untuk menyuntikan ideologi-ideologi baru kepada generasi penerus. Agar praktik-praktik penistaan agama dan pelecehan atas perbedaan suku dan ras tidak terjadi lagi.

Ajaran Gus Dur tentang akal budi mendorong manusia senantiasa sadar bahwa bermasyarakat di tengah multikulturnya memerlukan ajaran agama sehingga mendorong akal lebih berbudi. Akal manusia tanpa agama dapat mendorong terjadinya kejahatan, seperti mencemooh, membuli, menistakan, dan memprovokasi. Apalagi, era sekarang ini adalah masa digitalisasi percepatan informasi semakin menjadi. Suntikan pola pikir dan perilaku dapat segera disebarkan dan ditiru oleh siapapun tanpa sekat umur dan takar suku.

Akal yang didasarkan pada nilai agama menurut Gus Dur akan meuwujdkan cinta kasih. Cinta kasih manusia sesungguhnya sangat tepat untuk melindungi kehidupan manusia di segala masa kehidupan. Budi merupakan serangkaian kemampuan kognitif yang memungkinkan kesadaran, persepsi, pertimbangan, dan ingatan pada manusia atau dalam bahasa Gus Dur ialah alat batin yang mampu mendorong manusia berperilaku baik dan menghilangkan yang buruk. Indonesia dengan segala perbedaan agamanya sangat riskan terdampak konflik. 

Oleh karena itu, pandangan Gus Dur tentang akal budi manusia ini perlu dikaji ulang di dunia pendidikan sehingga menghasilkan mata pelajaran  yang memiliki ruh-ruh  nilai etis agama dan budaya baik science/sains maupun sosial. 

Di ranah pendidikan agama terutama Islam dipandang perlu untuk membangun sikap toleransi terhadap setiap perbedaan baik pandangan maupun praktik.

Saat Clifford Geertz datang ke Mojokerto (Pare, Kediri Jawa Timur) tahun 1950-an, dia menjumpai Islam tidak tunggal melainkan lahir dengan tampilan tiga wajah yang kemudian terklasifikasi sebagai santri, abangan, dan priyayi. 

Meski banyak yang mengkritik klasifikasi tersebut, temuan Geertz telah mengkonfirmasi bahwa agama Islam cenderung memiliki banyak wajah. Dengan demikian, keragaman tersebut jika tidak terkonfimasi secara langsung hadir di tengah-tengah masyarakat pada beberapa wilayah di Indonesia akan menjadi sumbang nilai agamanya.

Apalagi ilmuwan-ilmuwan besar seperti Geertz menjadi referensi penting dalam keilmuan-keilmuan di perguruan tinggi. Dengan demikian, wajah agama Islam memerlukan pandangan luas agar tidak terjadi kesalahpahaman. Belum lagi, Indonesia tidak hanya memiliki satu suku, ras, dan bentuk praktik budaya. 

Kehadiran diri di tengah lingkungan yang berbeda juga memerlukan akal budi. Menerima perbedaan tanpa memojokkan perbedaan harus tetap menjadi ruh setiap orang yang berkerakyatan. Terutama anak didik dan mahasiswa yang akan menjadi generasi penerus. 

Kesadaran perbedaan praktik dan pandangan keagamaan serta budaya, suku, dan ras harus dijunjung dan hal ini bukan hanya sebatas teori dalam mata pelajaran saja tetapi benar-benar dipraktikkan pada perilaku dan bahasa. Mahasiswa yang merupakan rumpun terkahir untuk mengabdikan dirinya kepada masyarakat harus siap membawa diri dan melebur di tengah-tengah kondisi masyarakat.

Sudah seharusnya kita selaku mahasiswa atau kaum terdidik yang membawa misi sebagai agent sosial of change bukan sekadar pada saat mereka menjadi mahasiswa, tetapi juga setelah mereka lulus dari kuliah dan hidup ditengah masyarakat.

Agent sosial of change bukan perkara mudah, mengubah paradigma masyarakat yang buruk menjadi baik, mengubah kebiasaan hidup buruk menjadi baik, dan membantu masyarakat memahami kondisi Indonesia yang multikultural dan multiagama ini harus dilaksanakan dengan mengembalikan ajaran agama pada akal budi yang mampu melahirkan keluhuran jiwa. (JS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *